|
Pesan/amanat khusus untuk keturunan atau "rundayan", Keluarga Besar R. Ahmad Djajadi, yang merupakan "seuweu-siwi" DALEM SAWIDAK, yang harus kita pegang serta dilaksanakan bersama dalam hidup ini adalah:
- Selamanya kita harus mendoakan orang tua, leluhur serta yang mengasuh kita, agar senantiasa mendapat Karunia Allah SWT. Ditinjau dari hakekatnya, esensi leluhur kita tersebut ada dalam diri kita, berasal dari orang-orang tua yang turun lalu bermuara pada kita semua.
- Harus menjadi umat Islam yang Muslim, takwa serta senantiasa bersyukur ke hadirat Allah SWT.
- Harus menjadi manusia yang berguna bagi pribadinya, keluarga, agama, bangsa dan menjadi Rahmatan Lil Alamin.
- Harus gemar menolong serta membantu sesama yang mendapat kesulitan.
- Harus cageur, bageur, bener, pinter, teger, pangger, wanter, cangker.
- Senantiasa menerapkan falsafah hidup Silih Asih, Silih Asah serta Silih Asuh.
- Harus bisa mendidik anak cucu kita agar menjadi manusia yang senantiasa mendapat Ridho Allah SWT.
- Semua umat manusia berasal dari "Kanjeng" Nabi Adam, sama-sama makhluk ciptaan Allah. Oleh karena itu, pada dasarnya kita masih satu keturunan.
Berkaitan dengan hal itu, sangat dianjurkan bagi kita agar selalu saling menghargai, memelihara tali silaturahmi serta dilarang bertengkar.
Dihadapan Allah SWT, yang menjadi ukuran adalah ibadah serta keimanan dan ketakwaan kita, bukan karena keturunannya. Akan tetapi, kiranya kita wajib mengetahui dari mana kita berasal, siapa leluhur kita, untuk menjadi peringatan dan menjadi kebanggaan atau "kareueus" anak cucu serta keturunan kita kelak.
Ternyata leluhur yang menurunkan kita tersebut adalah manusia-manusia yang memiliki "Jati Diri" serta kualitas kepribadian dan martabat kemanusiaan, yang saat ini lebih dikenal dengan sumber daya manusia yang utama.
Hal ini tidak mesti dikaitkan dengan "Kamenakan" (Pangkat atau Kebangsawanannya), atau karena "Cacah Kuricahan" (orang kebanyakan ). Karena hal itu hanya sekedar buatan manusia belaka.
- Oleh karena itu kita harus senantiasa menjaga kehormatan leluhur serta menjaga diri dan keluarga kita. Hal ini mengandung arti bahwa kita sudah memberikan warisan kehormatan pada keturunan kita, supaya bisa melewati "Ihdinassirothol Mustaqim", agar bisa mencapai tujuan akhir hidup kita, yaitu "Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun".
- Yang menjadi ukuran bagi kita dalam menjalani hidup di dunia, bisa dengan dua jalan, yaitu:
Pertama, apakah ibu-bapak/orang tua merasa senang, suka, reueus, atau sebaliknya tidak dengan segala tingkah laku kita?
Sebab, ridhonya ibu-bapak kita adalah ridho Alah SWT. Murkanya ibu-bapak juga merupakan murka Allah SWT. Tentu saja ibu-bapak disini adalah yang muslim dan mu'min.
Kedua, apakah anak cucu kita akan merasa bangga dengan ibu-bapaknya, yaitu diri kita sendiri? Atau malah sebaliknya, malahan merasa malu serta hina?
Oleh karena itu, tentu saja anaknya juga harus termasuk kedalam golongan muslim dan mu'min, serta soleh/solehah.
Demikian ukuran hidup di dunia ini, agar hidup ini meninggalkan bekas yang baik, meninggalkan nama yang baik/harum serta ada dalam keridhoan Allah SWT.
- Menurut sesepuh dan para leluhur, kita dilahirkan ke dunia ini tidak keluar dari belahan batu atau keluar dari rumpun pisang, jelas darah serta asal muasalnya.
- Mudah-mudahan kita senantiasa ada dalam Mardotillah. Amien...
|